SatuBerita.Online//JAKARTA — Ada pemandangan yang kerap bikin geleng-geleng kepala di lingkungan kerja modern: ketika seseorang terbukti melakukan kesalahan telak, namun alih-alih mengakuinya, ia justru bersikeras ingin selalu benar.
Yang lebih pelik, temuan salah tersebut bukan diungkap oleh orang luar, melainkan disaksikan dan dibuktikan langsung oleh tim kerjanya sendiri berdasarkan fakta yang ada di depan mata. Namun, alih-alih berterima kasih atau intropeksi, respons yang muncul justru sebaliknya—marah-marah dan menolak dikritik.
Padahal, sebagai seorang pemimpin (leader), sudah hukum alam dan profesionalisme untuk berani menghadapi kenyataan. Kalau memang salah, ya harus terima lapang dada.
Fakta Sudah Jelas, Kenapa Harus Marah?
Dunia profesional menuntut objektivitas, bukan ego pribadi. Ketika sebuah temuan menunjukkan adanya kekeliruan, kemarahan bukanlah solusi. Reaksi defensif dengan membentak atau emosi justru memperlihatkan ketidakmatangan dalam memimpin.
”Kalo sudah salah ya harus terima kenyataannya. Sebagai leader itu harus mengasih contoh yang benar buat anak buahnya,” ungkap salah satu pekerja yang mewakili suara rekan-rekannya di kantor.
Sikap egois yang selalu ingin merasa benar ini membuat suasana kantor menjadi tidak sehat. Anak buah yang niatnya ingin menyelamatkan pekerjaan dari kesalahan fatal, justru kena imbas amukan sang atasan.
Jeritan Hati Anak Buah: “Udah Capek Mental!”
Bukan rahasia lagi jika beban pekerjaan sehari-hari sudah cukup melelahkan. Namun, beban tersebut berlipat ganda ketika mental para karyawan harus terkuras menghadapi gaya kepemimpinan yang anti-kritik.
Ego Tinggi, Fakta Diabaikan: Bukannya mengecek ulang temuan tim, atasan malah ngotot merasa paling benar meskipun data jelas berbicara sebaliknya.
Hilangnya Figur Teladan: Pemimpin yang seharusnya menjadi panutan justru mempertontonkan sikap kekanak-kanakan saat dikoreksi.
Krisis Kenyamanan Kerja: Anak buah merasa lelah dan tertekan karena setiap ada kesalahan operasional, respons yang keluar selalu emosi, bukan solusi.
Saatnya Berbenah Menjadi Leader Berjiwa Besar
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi siapa pun yang duduk di kursi kepemimpinan. Jabatan tinggi tidak serta-merta membuat seseorang kebal dari kesalahan. Justru, kebesaran jiwa seorang pemimpin diuji saat ia berani mengaku salah, meminta maaf, dan memperbaiki keadaan bersama timnya.
Sudah saatnya pola pikir seperti ini diubah. Jadilah leader yang kinerjanya bagus, suportif, dan bisa dijadikan teladan nyata bagi anak buahnya, bukan pemimpin yang ditakuti karena egonya yang terlampau tinggi.(*)








