Batang,6 Juni-2026.
Polemik investasi PT. Sembilan Bintang Berjaya, menjadi sorotan, pasalnya penggalangan dana dari warga, alumni dan wali murid yang tergabung dalam investasi, tidak membuahkan hasil, justru merugikan para nasabah hingga milyaran rupiah.
Babak baru dunia pesantren menjadi trending topik berbincang publik ditengah tengah ramenya sorotan khalayak umum kepada oknum yang mengatasnamakan pengasuh lembaga pendidikan dunia pesantren.
Miris berbagai spekulasi dan pertanyaan publik, terkait dugaan peran sosok Kiyai Sholeh selaku pengasuh/pimpinan pondok pesantren AR Roudloh Babadan Limpung Kab. Batang dan juga putranya Gus Ulil dalam program investasi PT. Sembilan Bintang Berjaya menyiratkan beribu spekulasi. Mulai adanya dugaan keterlibatannya sebagai fasilitator program investasi hingga dugaan bagian skenario program yang terstruktur. Jum,at, 5 Juni 2026.
Dari hasil pendalaman investigasi dilapangan, menguatkan bahwa program investasi PT. Sembilan Bintang Berjaya
berawal munculnya kepercayaan, karena melihat yang memfasilitasi sosok pak kiyai Sholeh, dan juga putranya Gus Ulil.
Sehingga tertanam kepercayaan para calon investor, baik dari warga masyarakat, alumni dan para wali murid pondok.
Lebih – lebih adanya penawaran keuntungan yang dijanjikan setelah berinvestasi, para investor akan mendapatkan kompensasi 5% dan juga paket sembako yang akan diterima para anggota yang tergabung satu bulan sekali, selama uang tersebut masih ada diperusahaan, sesuai besaran uang yang disetorkan sebagai bentuk investasi.
Dengan kisaran perorang mulai 50 juta, 100 juta, hingga 200 juta, hingga terhimpun milyaran rupiah dari para peserta investor.
Namun kenyataannya berbeda dengan praktiknya, dimana para investor menerima kompensasi yang dijanjikan hanya 1 hingga maksimal 3 kali penerimaan, seterusnya gak pernah ada lagi.
Hal inilah menjadi pertanyaan siapa yang bertanggung jawab atas timbulnya kerugian uang para investor, dimana uang yang di investasikan tidak ada kejelasan, dan tidak dikembalikan kepara investor, hanya penjelasan yang diterima bahwa Direktur PT Sembilan Bintang Berjaya meninggal dunia, selanjutnya tidak ada kejelasan konkret pertanggung jawaban dari Perusahaan maupun yang memfasilitasi yaitu Kyai Sholeh dan Gus Ulil putranya.
Akibatnya justru pil pahit yang ditelan oleh para investor yang bergabung dalam investasi tersebut, berbagai upaya mendapatkan uang dengan alih alih meraup keuntungan namun justru jeratan hutang melilit para investor, mengingat uang yang digunakan untuk investasi didapatkan melalui pinjaman bank dengan agunan sertifikat.
Penggalian informasi menemukan titik terang, bahwa PT. Sembilan Bintang Berjaya awalnya meminta bantu pengasuh pondok pesantren AR Roudloh untuk mengenalkan program investasi, dengan kompensasi yang menjajikan kepada para calon investor yaitu warga masyarakat, alumni dan wali murid.
Menguak dugaan uang dari para investor tersebut diserahkan ke Gus Ulil, baik tunai maupun transfer. Dugaan uang yang terkumpul nilainya hingga milyaran rupiah, dari sumber-sumber para korban investasi.
Lebih lanjut dalam keterangannya Kiyai Sholeh menegaskan bahwa ia hanya memfasilitasi adanya program investasi PT. Sembilan Bintang Berjaya, dengan mengadakan beberapa pertemuan di rumah makan Rumah Makan Ikan Tirta Asri dan dihalaman pondok pesantren dengan diikuti para warga maupun wali murid yang berminat investasi.
Uangpun dari para peserta ya berminat berinvestasi, langsung diserahkan ke perusahaan, bukan ke kami, kami hanya memfasilitasi, dan Ulil hanya membantu memfasilitasi saja, bisa dicek, ada bukti setoran ke perusahaan lengkap semua,”jelasnya.
“Berhubung Direktur perusahaan meninggal dunia, dan pengurus perusahaan juga tidak jelas, jadi tidak ada yang bertanggung jawab, bahkan saya juga menjadi korban investasi sebesar 2 milyar. Saya sudah berusaha, nyatanya tidak ada hasil sama sekali. Uang saya pun hilang tidak kembali,”bebernya.
Kalau kemudian kami dianggap berperan silahkan dicek, kami ada buktinya semua,
sedangkan kaitan panitia ia tidak mengetahui persis siapa strukturnya, mungkin di masing masing desa atau bagaimana saya tidak tau persis.
“Sedangkan uang yang di investasikan setahu saya dari 50 juta, hingga 100 juta, kalaupun ditotal kisaran 4 milyar, dan saya sampaikan saya juga menjadi korban 2 milyar juga hilang,”ungkapnya.(TIM)








