SATUBERITA. ONLINE//Jakarta – Pernah dengar cerita anggota dewan yang hobi ganti ponsel tiap minggu bak ganti kaus kaki? Itu bukan gaya hidup, itu paranoid. Mereka sadar, di balik senyapnya ruang kerja atau mewahnya mobil dinas, ada “telinga raksasa” milik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang siap mencatat setiap bisikan haram.
Bukan sulap bukan sihir, operasi tangkap tangan (OTT) yang sering bikin geger itu bermula dari teknologi tingkat tinggi. Penasaran apa saja senjatanya? Mari kita kulik dapur teknologi Kuningan yang bikin tikus-tikus got berdasi gagal tidur nyenyak.
ATIS: Mesin Jerman Penangkap Suara
Senjata utama KPK bernama ATIS. Jangan bayangkan alat kecil yang ditempel di belakang HP. ATIS adalah sistem Lawful Interception buatan Jerman seharga miliaran rupiah. Cara kerjanya elegan: lewat pintu depan.
KPK bekerja sama dengan operator seluler. Begitu target masuk radar hukum, ATIS melakukan mirroring. Suara, durasi, hingga nomor tujuan terekam otomatis tanpa membuat sinyal HP target drop. “Ini bukan film aksi, ini administrasi tingkat tinggi,” ungkap pengamat teknologi. Setiap kata menjadi arsip negara yang siap diputar di meja hijau.
Reuven-GSMSL: Sang Pemeta Jaringan
Kalau ATIS adalah perekamnya, Reuven-GSMSL adalah intelijennya. Alat ini fokus pada jaringan GSM konvensional (Telepon & SMS). Fungsinya vital untuk memetakan pola komunikasi. Jika menjelang proyek cair frekuensi telepon meningkat drastis, Reuven akan memberikan alarm. Dari sini, penyidik tahu kapan waktu yang tepat untuk meluncur ke lapangan.
Pegasus: Si Kuda Putih yang Mematikan
Nama ini paling sering bikin pejabat “demam”. Pegasus, spyware buatan NSO Group asal Israel. Ini adalah kasta tertinggi alat sadap. Berbeda dengan sistem operator, Pegasus masuk lewat celah keamanan sistem operasi (Zero-click).
Tanpa klik link apa pun, mikrofon bisa aktif sendiri, lokasi terlacak real-time, bahkan pesan terenkripsi di aplikasi chat hijau pun bisa dibaca. Namun, alat ini kabarnya hanya digunakan untuk target ‘Big Fish’ karena biaya dan sensitivitasnya yang luar biasa.
IMSI-Catcher: Pelacak Jejak Digital
Sering lihat adegan mobil van parkir di depan rumah target? Di dunia nyata, itu jarang terjadi. Namun, KPK memiliki IMSI-Catcher. Alat ini bertindak sebagai BTS palsu untuk memancing ponsel target agar terhubung dengannya. Tujuannya satu: menentukan lokasi presisi sang target sebelum tim penindak mendobrak pintu.
Canggih vs Lihai: Pertarungan Kucing dan Tikus
Meski dibekali teknologi “dewa”, tantangan terbesar tetaplah faktor manusia. Para koruptor kini makin cerdik; mereka mulai meninggalkan ponsel dan kembali ke metode kuno seperti surat manual atau pertemuan di tempat terpencil.
”Alat secanggih apa pun bisa dipatahkan oleh pola kerja yang disiplin. Kasus seperti Harun Masiku menjadi bukti bahwa teknologi punya batas ketika berhadapan dengan target yang paham cara kerja sistem,” pungkas seorang sumber kepada tim redaksi.
Pada akhirnya, alat sadap KPK hanyalah alat. Ia adalah telinga negara yang disiplin. Seberapa canggih pun alatnya, keberhasilan sesungguhnya tetap ada pada integritas orang-orang di balik layar yang berani menekan tombol ‘Record’.
Penulis : Redaksi
Editor : Hafidz
Sumber Berita: Tim KPK








