PEKALONGAN – Seorang pimpinan padepokan atau pondok pesantren di wilayah Simbangkulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, akhirnya diamankan aparat kepolisian pada Rabu (27/5/2026) pagi. Pengamanan ini dilakukan terkait dugaan tindak pidana pencabulan yang menimpa puluhan santriwati, yang diduga telah berlangsung selama belasan tahun.
Terduga pelaku berinisial AKF (54), yang dikenal sebagai pengasuh di lembaga pendidikan tersebut, digelandang ke Markas Polres Pekalongan Kota sekitar pukul 06.00 WIB untuk menjalani pemeriksaan mendalam oleh tim penyidik Satreskrim.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, aksi pengamanan bermula saat kedatangan tim dari organisasi Yakuza Maneges pimpinan Gus Thuba dari Ploso, Kediri. Tim tersebut tiba di lokasi padepokan pada waktu subuh guna menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan asusila yang terjadi di tempat itu. Berkat koordinasi dan langkah cepat tersebut, terduga pelaku berhasil diamankan dan langsung dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Kasus ini cukup menggegerkan masyarakat, mengingat dugaan tindakan tidak bermoral tersebut disebut telah berlangsung selama kurang lebih 12 tahun terakhir. Jumlah korban pun diperkirakan sangat banyak, dengan indikasi setidaknya ada 25 santriwati yang menjadi sasaran perbuatan tercela itu.
Hingga saat ini, selain memeriksa terduga pelaku, pihak kepolisian juga telah memanggil dan meminta keterangan sejumlah santri yang diduga menjadi korban. Demi melindungi pihak yang menjadi saksi dan korban, proses pemeriksaan dilakukan secara tertutup serta didampingi oleh pihak terkait, termasuk pendamping hukum dan psikolog.
Namun, terungkap bahwa hingga saat ini terduga pelaku masih bersikap bungkam dan belum mau memberikan keterangan atau pengakuan apapun terkait tuduhan yang membelitnya. Kapolres Pekalongan Kota menegaskan, penetapan status tersangka akan segera ditentukan mengacu pada hasil akhir pemeriksaan dan bukti-bukti yang terkumpul.
Menanggapi kasus yang memicu kemarahan publik ini, Kapolres Pekalongan Kota, Riki Yariandi, menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan pemeriksaan secara maraton dan mendalam untuk mengungkap fakta sebenarnya hingga ke akar-akarnya.
“Pemeriksaan masih terus berjalan. Kami melibatkan psikolog serta tim Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah untuk mendalami perkara ini dan mengumpulkan alat bukti yang sah,” tegas Riki Yariandi.
Sebagai bagian dari langkah penyelidikan, petugas kepolisian juga telah memasang garis polisi dan menyegel sejumlah titik di area padepokan tersebut guna kepentingan pengumpulan barang bukti dan penyidikan lebih lanjut.
Kapolres juga turut mengimbau kepada masyarakat, wali murid, maupun pihak lain yang merasa menjadi korban atau memiliki informasi terkait peristiwa ini agar segera berani melapor kepada kepolisian. Pihaknya menjamin keamanan dan perlindungan penuh bagi para pelapor.
“Kami menyediakan safety house atau rumah aman yang dijaga ketat. Hal ini kami siapkan untuk menghindari adanya intimidasi, tekanan, maupun intervensi dari pihak tertentu kepada saksi atau korban,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, proses pemeriksaan intensif terhadap terduga pelaku maupun para saksi masih terus berlangsung di Mapolres Pekalongan Kota.lutfi








